Jumat, 22 Mei 2009


Fantastic Four

The Fantastic Four is a fictional superhero team appearing in comic books published by Marvel Comics. The group debuted in The Fantastic Four #1 (November 1961), which helped to usher in a new naturalism in the medium. The Fantastic Four was the first superhero team created by writer-editor Stan Lee and artist and co-plotter Jack Kirby, who developed a collaborative approach to creating comics with this title that they would utilize from then on. As the first superhero team title produced by Marvel Comics, it formed a cornerstone of the company's 1960s rise from a small division of a publishing company to a pop-culture conglomerate. The title would go on to showcase the talents of comics creators such as Roy Thomas, John Byrne, Steve Englehart, Walt Simonson, and Tom DeFalco, and is one of several Marvel titles still in publication since the Silver Age of Comic Books.

The four core individuals traditionally associated with the Fantastic Four, who gained superpowers after exposure to cosmic rays during a scientific mission to outer space, are: Mr. Fantastic (Reed Richards), a scientific genius and the leader of the group, who can stretch his body into incredible lengths and shapes; the Invisible Woman (Susan "Sue" Storm), Reed's wife, who can render herself and others invisible and project powerful force fields; the Human Torch (Johnny Storm), Sue's younger brother, who can generate flames, surround himself with them and fly; and the monstrous Thing (Ben Grimm), their grumpy but benevolent friend, who possesses superhuman strength and endurance due to the nature of his organic stone flesh.

Since the original four's 1961 introduction, the Fantastic Four have been portrayed as a somewhat dysfunctional yet loving family. Breaking convention with other comic-book archetypes of the time, they would squabble and hold grudges both deep and petty, and eschew anonymity or secret identities in favor of celebrity status. The team is also well known for its recurring struggles with characters such as the villainous monarch Doctor Doom, the planet-devouring Galactus, the sea-dwelling prince Namor, the spacefaring Silver Surfer, and the shape-changing alien Skrulls.

The Fantastic Four have been adapted into other media, including four animated television series, an aborted 1990s low-budget film, the major motion picture Fantastic Four (2005), and its sequel, Fantastic Four: Rise of the Silver Surfer (2007).

From Wikipedia, the free encyclopedia

Mickey Mouse Works

Mickey Mouse Works adalah acara televisi yang terdapat Miki Tikus dan teman-temannya. Ini adalah kartun Mickey's Mouse Tracks yang dibuah.

Miki Tikus, Mini Tikus, Donal Bebek, Desi Bebek, Gufi, Pluto dan Profesor Otto membintangi sekmennya sendiri. Karel Kuda, Klarabela, Kwik, Kwek dan Kwak, Kiki dan Koko, Gober Bebek, Boris, Humphrey si Beruang, J. Audobon Woodlore, Dinah si Dachshund, Butch si Bulldog, Mortimer dan Clara Cluck muncul sebagai karakter pembantu.

Mickey Mouse Works dibuat untuk mengulang kembali era kejayaan kartun pendek Disney, pada film ini terdapat banyak karakter Disney yang populer. Dengan menggunakan warna awal dan efek suara original, film ini terlihat seperti film Disney klasik.

Setiap setengah jam terdapat berbagai macam kartun, dari kartun yang panjangnya 90 detik sampai 12 menit.

Berbagai macam kartun yang sangat pendek, yang berdurasi 90 detik, berjudul sebagai berikut:

  • Mickey to the Rescue: Miki Tikus berusaha menyelamatkan Mini dari Boris.
  • Maestro Minnie: Mini menjadi konduktor pada suatu orkestra.
  • Goofy's Extreme Sports: Gufi menunjukan aksi berbahayanya dalam olahraga.
  • Donald's Dynamite: Aktivitas Donal dan sebuah dinamit.
  • Von Drake's House of Genius: Professor Otto menunjukan penemuannya.
  • Pluto Gets the Paper: Pluto melewati masalah untuk mengambil koran untuk Miki.

Meski kartun-kartun ini terpisah, tapi Donal, Miki Dan Gufi juga menjalani usaha jasa dalam begberapa kartun..

Setelah acara ini diganti oleh Disney's House of Mouse pada Januari 2001, film ini tidak pernah terlihat lagi. Namun, film ini masih ada pada stasiun Disney Channel.

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Bintang

Gugus bintang Pleiades, sebuah gugus terbuka di rasi Taurus.

Bintang merupakan benda langit yang memancarkan cahaya. Terdapat bintang semu dan bintang nyata. Bintang semu adalah bintang yang tidak menghasilkan cahaya sendiri, tetapi memantulkan cahaya yang diterima dari bintang lain. Bintang nyata adalah bintang yang menghasilkan cahaya sendiri. Secara umum sebutan bintang adalah objek luar angkasa yang menghasilkan cahaya sendiri (bintang nyata).

Menurut ilmu astronomi, definisi bintang adalah:

Semua benda masif (bermassa antara 0,08 hingga 200 massa matahari) yang sedang dan pernah melangsungkan pembangkitan energi melalui reaksi fusi nuklir.

Oleh sebab itu bintang katai putih dan bintang netron yang sudah tidak memancarkan cahaya atau energi tetap disebut sebagai bintang. Bintang terdekat dengan Bumi adalah Matahari pada jarak sekitar 149,680,000 kilometer, diikuti oleh Proxima Centauri dalam rasi bintang Centaurus berjarak sekitar empat tahun cahaya.

Sejarah Pengamatan

Bintang-bintang telah menjadi bagian dari setiap kebudayaan. Bintang-bintang digunakan dalam praktek-praktek keagamaan, dalam navigasi, dan bercocok tanam. Kalender Gregorian, yang digunakan hampir di semua bagian dunia, adalah kalender matahari, mendasarkan diri pada posisi Bumi relatif terhadap bintang terdekat, Matahari.

Astronom-astronom awal seperti Tycho Brahe berhasil mengenali ‘bintang-bintang baru’ di langit (kemudian dinamakan novae) menunjukkan bahwa langit tidaklah kekal. Pada 1584 Giordano Bruno mengusulkan bahwa bintang-bintang sebenarnya adalah matahari-matahari lain, dan mungkin saja memiliki planet-planet seperti bumi di dalam orbitnya, ide yang telah diusulkan sebelumnya oleh filsuf-filsuf Yunani kuno seperti Democritus dan Epicurus. Pada abad berikutnya, ide bahwa bintang adalah matahari yang jauh mencapai konsensus di antara para astronom. Untuk menjelaskan mengapa bintang-bintang ini tidak memberikan tarikan gravitasi pada tata surya, Isaac Newton mengusulkan bahwa bintang-bintang terdistribusi secara merata di seluruh langit, sebuah ide yang berasal dari teolog Richard Bentley.

Astronom Italia Geminiano Montanari merekam adanya perubahan luminositas pada bintang Algol pada 1667. Edmond Halley menerbitkan pengukuran pertama gerak diri dari sepasang bintang “tetap” dekat, memperlihatkan bahwa mereka berubah posisi dari sejak pengukuran yang dilakukan Ptolemaeus dan Hipparchus. Pengukuran langsung jarak bintang 61 Cygni dilakukan pada 1838 oleh Friedrich Bessel menggunakan teknik paralaks.

William Herschel adalah astronom pertama yang mencoba menentukan distribusi bintang di langit. Selama 1780an ia melakukan pencacahan di sekitar 600 daerah langit berbeda. Ia kemudian menyimpulkan bahwa jumlah bintang bertambah secara tetap ke suatu arah langit, yakni pusat galaksi Bima Sakti. Putranya John Herschel mengulangi pekerjaan yang sama di hemisfer langit sebelah selatan dan menemukan hasil yang sama. Selain itu William Herschel juga menemukan bahwa beberapa pasangan bintang bukanlah bintang-bintang yang secara kebetulan berada dalam satu arah garis pandang, melainkan mereka memang secara fisik berpasangan membentuk sistem bintang ganda.

Radiasi

Energi yang dihasilkan bintang, sebagai hasil samping dari reaksi fusi nuklir, dipancarkan ke luar angkasa sebagai radiasi elektromagnetik dan radiasi partikel. Radiasi partikel yang dipancarkan bintang dimanifestasikan sebagai angin bintang (yang berwujud sebagai pancaran tetap partikel-partikel bermuatan listrik seperti proton bebas, partikel alpha dan partikel beta yang berasal dari bagian terluar bintang) dan pancaran tetap neutrino yang berasal dari inti bintang.

Hampir semua informasi yang kita miliki mengenai bintang yang lebih jauh dari Matahari diturunkan dari pengamatan radiasi elektromagnetiknya, yang terentang dari panjang gelombang radio hingga sinar gamma. Namun tidak semua rentang panjang gelombang tersebut dapat diterima oleh teleskop landas Bumi. Hanya gelombang radio dan gelombang cahaya yang dapat diteruskan oleh atmosfer Bumi dan menciptakan ‘jendela radio’ dan ‘jendela optik’. Teleskop-teleskop luar angkasa telah diluncurkan untuk mengamati bintang-bintang pada panjang gelombang lain.

Banyaknya radiasi elektromagnetik yang dipancarkan oleh bintang dipengaruhi terutama oleh luas permukaan, suhu dan komposisi kimia dari bagian luar (fotosfer) bintang tersebut. Pada akhirnya kita dapat menduga kondisi di bagian dalam bintang, karena apa yang terjadi di permukaan pastilah sangat dipengaruhi oleh bagian yang lebih dalam.

Dengan menelaah spektrum bintang, astronom dapat menentukan temperatur permukaan, gravitasi permukaan, metalisitas, dan kecepatan rotasi dari sebuah bintang. Jika jarak bisa ditentukan, misal dengan metode paralaks, maka luminositas bintang dapat diturunkan. Massa, radius, gravitasi permukaan, dan periode rotasi kemudian dapat diperkirakan dari pemodelan. Massa bintang dapat juga diukur secara langsung untuk bintang-bintang yang berada dalam sistem bintang ganda atau melalui metode mikrolensing. Pada akhirnya astronom dapat memperkirakan umur sebuah bintang dari parameter-parameter di atas.

Fluks pancaran

Kuantitas yang pertama kali langsung dapat ditentukan dari pengamatan sebuah bintang adalah fluks pancarannya, yaitu jumlah cahaya atau energi yang diterima permukaan kolektor (mata atau teleskop) per satuan luas per satuan waktu. Biasanya dinyatakan dalam satuan watt per cm2 (satuan internasional) atau erg per detik per cm2 (satuan cgs).

Klasifikasi

Berdasarkan spektrumnya, bintang dibagi ke dalam 7 kelas utama yang dinyatakan dengan huruf O, B, A, F, G, K, M yang juga menunjukkan urutan suhu, warna dan komposisi-kimianya. Klasifikasi ini dikembangkan oleh Observatorium Universitas Harvard dan Annie Jump Cannon pada tahun 1920an dan dikenal sebagai sistem klasifikasi Harvard. Untuk mengingat urutan penggolongan ini biasanya digunakan kalimat "Oh Be A Fine Girl Kiss Me". Dengan kualitas spektrogram yang lebih baik memungkinkan penggolongan ke dalam 10 sub-kelas yang diindikasikan oleh sebuah bilangan (0 hingga 9) yang mengikuti huruf. Sudah menjadi kebiasaan untuk menyebut bintang-bintang di awal urutan sebagai bintang tipe awal dan yang di akhir urutan sebagai bintang tipe akhir. Jadi, bintang A0 bertipe lebih awal daripada F5, dan K0 lebih awal daripada K5.

Kelas Warna Suhu Permukaan °C Contoh
O Biru > 25,000 Spica
B Putih-Biru 11.000 - 25.000 Rigel
A Putih 7.500 - 11.000 Sirius
F Putih-Kuning 6.000 - 7.500 Procyon A
G Kuning 5.000 - 6.000 Matahari
K Jingga 3.500 - 5.000 Arcturus
M Merah <3,500 Betelgeuse

Pada tahun 1943, William Wilson Morgan, Phillip C. Keenan, dan Edith Kellman dari Observatorium Yerkes menambahkan sistem pengklasifikasian berdasarkan kuat cahaya atau luminositas, yang seringkali merujuk pada ukurannya. Pengklasifikasian tersebut dikenal sebagai sistem klasifikasi Yerkes dan membagi bintang ke dalam kelas-kelas berikut :

  • 0 Maha maha raksasa
  • I Maharaksasa
  • II Raksasa-raksasa terang
  • III Raksasa
  • IV Sub-raksasa
  • V deret utama (katai)
  • VI sub-katai
  • VII katai putih

Umumnya kelas bintang dinyatakan dengan dua sistem pengklasifikasian di atas. Matahari kita misalnya, adalah sebuah bintang dengan kelas G2V, berwarna kuning, bersuhu dan berukuran sedang.

Diagram Hertzsprung-Russell adalah diagram hubungan antara luminositas dan kelas spektrum (suhu permukaan) bintang. Diagram ini adalah diagram paling penting bagi para astronom dalam usaha mempelajari evolusi bintang.

Penampakan dan Distribusi

Karena jaraknya yang sangat jauh, semua bintang (kecuali Matahari) hanya tampak sebagai titik saja yang berkelap-kelip karena efek turbulensi atmosfer Bumi. Diameter sudut bintang bernilai sangat kecil ketika diamati menggunakan teleskop optik landas bumi, hingga diperlukan teleskop interferometer untuk dapat memperoleh citranya. Bintang dengan ukuran diameter sudut terbesar setelah Matahari adalah R Doradus, dengan 0,057 detik busur.

Sebuah katai putih yang sedang mengorbit Sirius (konsep artis). citra NASA.

Telah lama dikira bahwa kebanyakan bintang berada pada sistem bintang ganda atau sistem multi bintang. Kenyataan ini hanya benar untuk bintang-bintang masif kelas O dan B, dimana 80% populasinya dipercaya berada dalam suatu sistem bintang ganda atau pun multi bintang. Semakin redup bintang, semakin besar kemungkinannya dijumpai sebagai sistem tunggal. Dijumpai hanya 25% populasi katai merah yang berada dalam sebuah sistem bintang ganda atau sistem multi bintang. Karena 85% populasi bintang di galaksi Bimasakti adalah katai merah, maka tampaknya kebanyakan bintang di dalam Bimasakti berada pada sistem bintang tunggal.

Sistem yang lebih besar yang disebut gugus bintang juga dijumpai. Bintang-bintang tidak tersebar secara merata mengisi seluruh ruang alam semesta, tetapi terkelompokkan ke dalam galaksi-galaksi bersama-sama dengan gas antarbintang dan debu. Sebuah galasi tipikal mengandung ratusan miliar bintang, dan terdapat lebih dari 100 miliar galaksi di seluruh alam semesta teramati.

Astronom memperkirakan terdapat 70 sekstiliun (7×1022) bintang di seluruh alam semesta yang teramati. Ini berarti 70 000 000 000 000 000 000 000 bintang, atau 230 miliar kali banyaknya bintang di galaksi Bimasakti yang berjumlah sekitar 300 miliar.

Bintang terdekat dengan Matahari adalah Proxima Centauri, berjarak 39.9 triliun (1012) kilometer, atau 4.2 tahun cahaya. Cahaya dari Proxima Centauri memakan waktu 4.2 tahun untuk mencapai Bumi. Jarak ini adalah jarak antar bintang tipikal di dalam sebuah piringan galaksi. Bintang-bintang dapat berada pada jarak yang lebih dekat satu sama lain di daerah sekitar pusat galasi dan di dalam gugus bola, atau pada jarak yang lebih jauh di halo galaksi.

Karena kerapatan yang rendah di dalam sebuah galaksi, tumbukan antar bintang jarang terjadi. Namun di daerah yang sangat padat seperti di inti sebuah gugus bintang atau lingkungan sekitar pusat galaksi, tumbukan dapat sering terjadi. Tumbukan seperti ini dapat menghasilkan pengembara-pengembara biru yaitu sebuah bintang abnormal hasil penggabungan yang memiliki temperatur permukaan yang lebih tinggi dibandingkan bintang deret utama lainnya di sebuah gugus bintang dengan luminositas yang sama. Istilah pengembara merujuk pada jejak evolusi yang berbeda dengan bintang normal lainnya pada diagram Hertzsprung-Russel.

Evolusi

Struktur, evolusi, dan nasib akhir sebuah bintang sangat dipengaruhi oleh massanya. Selain itu, komposisi kimia juga ikut mengambil peran dalam skala yang lebih kecil.

Terbentuknya bintang

Bintang terbentuk di dalam awan molekul; yaitu sebuah daerah medium antarbintang yang luas dengan kerapatan yang tinggi (meskipun masih kurang rapat jika dibandingkan dengan sebuah vacuum chamber yang ada di bumi). Awan ini kebanyakan terdiri dari hidrogen dengan sekitar 23–28% helium dan beberapa persen elemen berat. Komposisi elemen dalam awan ini tidak banyak berubah sejak peristiwa nukleosintesis Big Bang pada saat awal alam semesta.

Gravitasi mengambil peranan sangat penting dalam proses pembentukan bintang. Pembentukan bintang dimulai dengan ketidakstabilan gravitasi di dalam awan molekul yang dapat memiliki massa ribuan kali matahari. Ketidakstabilan ini seringkali dipicu oleh gelombang kejut dari supernova atau tumbukan antara dua galaksi. Sekali sebuah wilayah mencapai kerapatan materi yang cukup memenuhi syarat terjadinya instabilitas Jeans, awan tersebut mulai runtuh di bawah gaya gravitasinya sendiri.

Berdasarkan syarat instabilitas Jeans, bintang tidak terbentuk sendiri-sendiri, melainkan dalam kelompok yang berasal dari suatu keruntuhan di suatu awan molekul yang besar, kemudian terpecah menjadi konglomerasi individual. Hal ini didukung oleh pengamatan dimana banyak bintang berusia sama tergabung dalam gugus atau asosiasi bintang.

Begitu awan runtuh, akan terjadi konglomerasi individual dari debu dan gas yang padat yang disebut sebagai globula Bok. Globula Bok ini dapat memiliki massa hingga 50 kali Matahari. Runtuhnya globula membuat bertambahnya kerapatan. Pada proses ini energi gravitasi diubah menjadi energi panas sehingga temperatur meningkat. Ketika awan protobintang ini mencapai kesetimbangan hidrostatik, sebuah protobintang akan terbentuk di intinya. Bintang pra deret utama ini seringkali dikelilingi oleh piringan protoplanet. Pengerutan atau keruntuhan awan molekul ini memakan waktu hingga puluhan juta tahun. Ketika peningkatan temperatur di inti protobintang mencapai kisaran 10 juta kelvin, hidrogen di inti 'terbakar' menjadi helium dalam suatu reaksi termonuklir. Reaksi nuklir di dalam inti bintang menyuplai cukup energi untuk mempertahankan tekanan di pusat sehingga proses pengerutan berhenti. Protobintang kini memulai kehidupan baru sebagai bintang deret utama.

[sunting] Deret Utama

Bintang menghabiskan sekitar 90% umurnya untuk membakar hidrogen dalam reaksi fusi yang menghasilkan helium dengan temperatur dan tekanan yang sangat tinggi di intinya. Pada fase ini bintang dikatakan berada dalam deret utama dan disebut sebagai bintang katai.

Akhir sebuah bintang

Ketika kandungan hidrogen di teras bintang habis, teras bintang mengecil dan membebaskan banyak panas dan memanaskan lapisan luar bintang. Lapisan luar bintang yang masih banyak hidrogen mengembang dan bertukar warna merah dan disebut bintang raksaksa merah yang dapat mencapai 100 kali ukuran matahari sebelum membentuk bintang kerdil putih. Sekiranya bintang tersebut berukuran lebih besar dari matahari, bintang tersebut akan membentuk superraksaksa merah. Superraksaksa merah ini kemudiannya membentuk Nova atau Supernova dan kemudiannya membentuk bintang neutron atau Lubang hitam.

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Senin, 18 Mei 2009











Ni . . . . Liad ni . . . Global Warming . . . !!!!!

Sejak dikenalnya ilmu mengenai iklim, para ilmuwan telah mempelajari bahwa ternyata iklim di Bumi selalu berubah. Dari studi tentang jaman es di masa lalu menunjukkan bahwa iklim bisa berubah dengan sendirinya, dan berubah secara radikal. Apa penyebabnya? Meteor jatuh? Variasi panas Matahari? Gunung meletus yang menyebabkan awan asap? Perubahan arah angin akibat perubahan struktur muka Bumi dan arus laut? Atau karena komposisi udara yang berubah? Atau sebab yang lain?

Sampai baru pada abad 19, maka studi mengenai iklim mulai mengetahui tentang kandungan gas yang berada di atmosfer, disebut sebagai gas rumah kaca, yang bisa mempengaruhi iklim di Bumi. Apa itu gas rumah kaca?

Sebetulnya yang dikenal sebagai ‘gas rumah kaca’, adalah suatu efek, dimana molekul-molekul yang ada di atmosfer kita bersifat seperti memberi efek rumah kaca. Efek rumah kaca sendiri, seharusnya merupakan efek yang alamiah untuk menjaga temperatur permukaaan Bumi berada pada temperatur normal, sekitar 30°C, atau kalau tidak, maka tentu saja tidak akan ada kehidupan di muka Bumi ini.

Pada sekitar tahun 1820, bapak Fourier menemukan bahwa atmosfer itu sangat bisa diterobos (permeable) oleh cahaya Matahari yang masuk ke permukaan Bumi, tetapi tidak semua cahaya yang dipancarkan ke permukaan Bumi itu bisa dipantulkan keluar, radiasi merah-infra yang seharusnya terpantul terjebak, dengan demikian maka atmosfer Bumi menjebak panas (prinsip rumah kaca).

Tiga puluh tahun kemudian, bapak Tyndall menemukan bahwa tipe-tipe gas yang menjebak panas tersebut terutama adalah karbon-dioksida dan uap air, dan molekul-molekul tersebut yang akhirnya dinamai sebagai gas rumah kaca, seperti yang kita kenal sekarang. Arrhenius kemudian memperlihatkan bahwa jika konsentrasi karbon-dioksida dilipatgandakan, maka peningkatan temperatur permukaan menjadi sangat signifikan.

Semenjak penemuan Fourier, Tyndall dan Arrhenius tersebut, ilmuwan semakin memahami bagaimana gas rumah kaca menyerap radiasi, memungkinkan membuat perhitungan yang lebih baik untuk menghubungkan konsentrasi gas rumah kaca dan peningkatan Temperatur. Jika konsentrasi karbon-dioksida dilipatduakan saja, maka temperatur bisa meningkat sampai 1°C.

Tetapi, atmosfer tidaklah sesederhana model perhitungan tersebut, kenyataannya peningkatan temperatur bisa lebih dari 1°C karena ada faktor-faktor seperti, sebut saja, perubahan jumlah awan, pemantulan panas yang berbeda antara daratan dan lautan, perubahan kandungan uap air di udara, perubahan permukaan Bumi, baik karena pembukaan lahan, perubahan permukaan, atau sebab-sebab yang lain, alami maupun karena perbuatan manusia. Bukti-bukti yang ada menunjukkan, atmosfer yang ada menjadi lebih panas, dengan atmosfer menyimpan lebih banyak uap air, dan menyimpan lebih banyak panas, memperkuat pemanasan dari perhitungan standar.

Sejak tahun 2001, studi-studi mengenai dinamika iklim global menunjukkan bahwa paling tidak, dunia telah mengalami pemanasan lebih dari 3°C semenjak jaman pra-industri, itu saja jika bisa menekan konsentrasi gas rumah kaca supaya stabil pada 430 ppm CO2e (ppm = part per million = per satu juta ekivalen CO2 - yang menyatakan rasio jumlah molekul gas CO2 per satu juta udara kering). Yang pasti, sejak 1900, maka Bumi telah mengalami pemanasan sebesar 0,7°C.

Lalu, jika memang terjadi pemanasan, sebagaimana disebut; yang kemudian dikenal sebagai pemanasan global, (atau dalam istilah populer bahasa Inggris, kita sebut sebagai Global Warming): Apakah merupakan fenomena alam yang tidak terhindarkan? Atau ada suatu sebab yang signfikan, sehingga menjadi ‘populer’ seperti sekarang ini? Apakah karena Al Gore dengan filmnya “An Inconvenient Truth” yang mempopulerkan global warming? Tentunya tidak sesederhana itu.

Perlu kerja-sama internasional untuk bisa mengatakan bahwa memang manusia-lah yang menjadi penyebab utama terjadinya pemanasan global. Laporan IPCC (Intergovernmental Panel on Climate Change) tahun 2007, menunjukkan bahwa secara rata-rata global aktivitas manusia semenjak 1750 menyebabkan adanya pemanasan. Perubahan kelimpahan gas rumah kaca dan aerosol akibat radiasi Matahari dan keseluruhan permukaan Bumi mempengaruhi keseimbangan energi sistem iklim. Dalam besaran yang dinyatakan sebagai Radiative Forcing sebagai alat ukur apakah iklim global menjadi panas atau dingin (warna merah menyatakan nilai positif atau menyebabkan menjadi lebih hangat, dan biru kebalikannya), maka ditemukan bahwa akibat kegiatan manusia-lah (antropogenik) yang menjadi pendorong utama terjadinya pemanasan global

Terlihat bahwa karbon-dioksida adalah penyumbang utama gas kaca. Dari masa pra-industri yang sebesar 280 ppm menjadi 379 ppm pada tahun 2005. Angka ini melebihi angka alamiah dari studi perubahan iklim dari masa lalu (paleoklimatologi), dimana selama 650 ribu tahun hanya terjadi peningkatan dari 180-300 ppm. Terutama dalam dasawarsa terakhir (1995-2005), tercatat peningkatan konsentrasi karbon-dioksida terbesar pertahun (1,9 ppm per tahun), jauh lebih besar dari pengukuran atmosfer pada tahun 1960, (1.4 ppm per tahun), kendati masih terdapat variasi tahun per tahun.

Sumber terutama peningkatan konsentrasi karbon-dioksida adalah penggunaan bahan bakar fosil, ditambah pengaruh perubahan permukaan tanah (pembukaan lahan, penebangan hutan, pembakaran hutan, mencairnya es). Peningkatan konsentrasi metana (CH4), dari 715 ppb (part per billion= satu per milyar) di jaman pra-industri menjadi 1732 ppb di awal 1990-an, dan 1774 pada tahun 2005. Ini melebihi angka yang berubah secara alamiah selama 650 ribu tahun (320 - 790 ppb). Sumber utama peningkatan metana pertanian dan penggunaan bahan bakar fosil. Konsentrasi nitro-oksida (N2O) dari 270 ppb - 319 ppb pada 2005. Seperti juga penyumbang emisi yang lain, sumber utamanya adalah manusia dari agrikultural. Kombinasi ketiga komponen utama tersebut menjadi penyumbang terbesar pada pemanasan global.

Kontribusi antropogenik pada aerosol (sulfat, karbon organik, karbon hitam, nitrat and debu) memberikan efek mendinginkan, tetapi efeknya masih tidak dominan dibanding terjadinya pemanasan, disamping ketidakpastian perhitungan yang masih sangat besar. Demikian juga dengan perubahan ozon troposper akibat proses kimia pembentukan ozon (nitrogen oksida, karbon monoksida dan hidrokarbon) berkontribusi pada pemanasan global. Kemampuan pemantulan cahaya Matahari (albedo), akibat perubahan permukaan Bumi dan deposisi aerosol karbon hitam dari salju, mengakibatkan perubahan yang bervariasi, dari pendinginan sampai pemanasan. Perubahan dari pancaran sinar Matahari (solar irradiance) tidaklah memberi kontribusi yang besar pada pemanasan global.

Dengan demikian, maka dapat dipahami bahwa memang manusia yang berperanan bagi nasibnya sendiri, karena pemanasan global terjadi akibat perbuatan manusia sendiri. Lalu bagaimana dampak Global Warming bagi kehidupan? Alur waktu prediksi dan dampak dari perspektif sains dapat dibaca pada bagian kedua tulisan ini.


Paramore is a Grammy-nominated American rock band that formed in Franklin, Tennessee in 2004 consisting of Hayley Williams (lead vocals/keyboard), Josh Farro (lead guitar/backing vocals), Jeremy Davis (bass guitar), Zac Farro (drums), and Taylor York (rhythm guitar). The group released their debut album All We Know Is Falling in 2005, and their second album Riot! in 2007, the latter of which was certified platinum in the US and gold in the UK and Ireland History 2002–2005: Formation and All We Know Is Falling In 2002, at the age of 13, vocalist Hayley Williams moved from her hometown Meridian, Lauderdale County, Mississippi to Franklin, Williamson County, Tennessee USA where she met the brothers Josh and Zac Farro while she was attending a private school. Shortly after arriving, she began taking vocal lessons with Brett Manning. Prior to forming Paramore, however, Williams and bassist Jeremy Davis, along with friend Kimee Read, took part in a funk cover band called The Factory, while the Farro brothers had practiced together after school. The other members of what was soon to be Paramore had been "edgy about the whole female thing" of having Williams as vocalist, but, because they were really good friends, she started writing for them and it eventually worked out. The band was officially formed by Josh Farro (lead guitar/backing vocals), Zac Farro (drums), Jeremy Davis (bass) and Hayley Williams (lead vocals) in 2004, with the later addition of Williams' neighbor Jason Bynum (rhythm guitar). They took the name Paramore, which is derived from the latin saying "unknown lover.;" once the group learned the meaning of the homonym paramour ("secret lover"), they decided to adopt the name, using the Paramore spelling. The band's first song written together was "Conspiracy", which was later used on their debut album. Over the following years, Paramore performed at venues outside the greater Nashville area, including the concert festivals Purple Door and Warped Tour. John Janick, CEO and co-founder of the music label Fueled by Ramen, got a hold of Paramore's demos and went to a Taste of Chaos performance in Orlando, Florida to see the band perform live. After a smaller private performance at a warehouse, the band was signed to the label in April 2005. Paramore traveled back to Orlando, Florida, to record their debut album All We Know Is Falling, but, shortly after arriving, Davis opted to leave the band citing personal reasons. The remaining four members of Paramore continued with the album, writing "All We Know" about his departure, and later deciding to base All We Know Is Falling around the concept. The album artwork also reflected Paramore's grief as Williams explains, "The couch [on the cover of All We Know is Falling] with no one there and the shadow walking away; it's all about Jeremy leaving us and us feeling like there's an empty space." Recording for All We Know is Falling had taken three weeks, and promotional material for the album had only featured the four remaining members. Before touring, the band added John Hembree (bass) to their line up to replace Davis. During that summer, Paramore was featured on the Shira Girl Stage of the 2005 Warped Tour. After being asked by the band, Davis returned to Paramore, after five months apart, as Hembree left. All We Know Is Falling was released on July 24, 2005 and reached #30 on the Billboard's Heatseekers Chart. Paramore released "Pressure" as its first single, with a video directed by Shane Drake, but the song had failed to place on the charts. The video featured the band performing in a warehouse, eventually getting sprayed with water sprinklers as the storyline of a conflicted couple occurs. In July, "Emergency" was released as the second single, the video again reuniting the band with director Shane Drake and featuring Hunter Lamb, who replaced Bynum on guitar. The video for "Emergency" showcased Paramore in another performance, this time fixing the members bloody and in worn costumes. The third single "All We Know", was released with limited airtime, and the video consisting of a collection of live performances and backstage footage. In January 2006, they were a part of the Winter Go West Tour where they played alongside Seattle bands Amber Pacific and The Lashes, and in February, Williams' vocals were featured on "Keep Dreaming Upside Down" by October Fall. In the spring 2006, Paramore was an opening act on headlining tours for both Bayside and soon afterwards, The Rocket Summer. They toured the United Kingdom from October 5 to October 15, 2006, where they ended in London at The Mean Fiddler. The band then covered Foo Fighters' "My Hero" for the Sound of Superman soundtrack which was released on June 26, 2006. During the summer of 2006, Paramore played a portion of Warped Tour, primarily on the Volcom and Hurley Stages, and their first night on the Main Stage was at a date in their hometown of Nashville. Paramore's first United States headlining tour began on August 2, 2006 to a sold-out audience with support from This Providence, Cute Is What We Aim For, and Hit the Lights with the final show in Nashville. That year they were voted "Best New Band", and Williams as #2 "Sexiest Female", by readers of the British magazine Kerrang!. In 2007, Paramore was named by British magazine NME as one of ten bands to watch out for in their "New Noise 2007" feature. In January, the band played an acoustic set for the grand opening of a Warped Tour exhibit at the Rock and Roll Hall of Fame, and the dress Williams wore in the video for "Emergency" was also put onto display in the exhibit. Paramore was featured in Kerrang! magazine once more, however, Williams believed the article was an untrue portrayal of the band, particularly because it focused on her as the main component. Afterwards, Williams addressed the issue in the band's LiveJournal, with a post saying, "we could’ve done without a cover piece. sorry, if it offends anyone at Kerrang! but i don’t think there was one bit of truth in that article." In April, Williams' vocals were featured in "Then Came To Kill" by The Chariot. They headlined a tour in early 2007 with This Providence, The Almost and Love Arcade. 2007–2008: Riot! and other projects Lead vocalist Hayley Williams (front) and rhythm guitarist Taylor York(right) perform at the Vans Warped Tour in Vancouver, July 2007. Paramore began recording their second album Riot! in January 2007, ending production in March, without the guitar of Hunter Lamb (who left the band early in 2007 after getting married); without Lamb, lead guitarist Farro was required to play both guitar parts on the album. Taylor York, who had been in a band with the Farro brothers before the two met Williams, joined as a temporary replacement for Lamb. After being courted by producers Neal Avron and Howard Benson, Paramore opted to record Riot! with New Jersey producer David Bendeth (Your Vegas, Breaking Benjamin), releasing the album on June 12, 2007. Riot! entered the Billboard 200 at number 20, the UK charts at number 24, and sold 44,000 its first week in the United States. The name Riot! had been chosen because it meant "a sudden outburst of uncontrolled emotion", and it was a word that "summed it all up". The first single from the album, released June 21, 2007, "Misery Business", is, according to Williams, "more honest than anything I've ever written, and the guys matched that emotion musically." Summer of 2007 saw Paramore participating on their third Warped Tour and posting journals of their experiences on yourhereblog for MTV. In June they were declared by Rolling Stone as "Ones to Watch". Paramore made their 1st Live Television debut on Fuse Networks daily show, The Sauce The second single from Riot!, "Hallelujah", was released on July 30, 2007, and is currently only available online and on UK television. The video, much like "All We Know", features backstage footage and live performances. In August 2007, Paramore had been featured in television spots on MTV, performing acoustic versions of their songs or acting in short accompaniments to MTV program commercials. As "MTV Artists of the Week", the band filmed the faux camping themed spots in Queens, New York, all written and directed by Evan Silver and Gina Fortunato. MTV.com also has a collection of short videos with the band to promote Riot as well. For weeks in August 2007, the "Misery Business" video was the number one streamed video at MTV.com. On October 8, Paramore played "Misery Business" live on Late Night with Conan O'Brien, a booking made possible due to the friendship struck between the band and Max Weinberg during the 2007 Warped Tour.[31] In August, Paramore participated in the band New Found Glory's music video for their cover of Sixpence None the Richer's song "Kiss Me". On October 11, 2007, the music video for "Crushcrushcrush" debuted on the United States television as the next single from Riot!. The video for "Crushcrushcrush" featured the band playing a performance in a barren desert, being spied upon, and later destroying their equipment. The single was officially released in the United States on November 19 and made available in the United Kingdom on November 12, 2007. Williams recorded guest vocals for the tracks "The Church Channel" and "Plea" for the Say Anything concept album In Defense of the Genre released on October 23, 2007. The group performed live, acoustic style in Boston on November 29, 2007 for FNX radio. On December 31, 2007, Paramore performed on the MTV New Year's Eve program which ran from 11:30 p.m. to 1:00 a.m. Paramore at The Social, Orlando, Florida on April 23, 2007. Paramore was featured on the cover of February 2008 issue of Alternative Press magazine and voted "Best Band Of 2007" by the readers. The band was nominated for "Best New Artist" at the 50th Annual Grammy Awards presented on February 10, 2008 but lost to Amy Winehouse. Early 2008 saw Paramore touring the United Kingdom, supporting their album Riot!, along with New Found Glory, Kids in Glass Houses and Conditions. In early February 2008, the band began a tour in Europe, however on February 21, 2008, the band announced that they had canceled 6 shows due to personal issues. Williams wrote on the band's web site that "the break will give that band 'a chance to get away and work out our personal issues'". MTV.com reported that fans of Paramore were speculating about the future of the band and reported rumors of trouble had begun earlier in the month when Josh Farro expressed his anger against the media's focus on Williams. The band, however, returned to their hometown to record the music video for the fourth single "That's What You Get", which was then released on March 24, 2008. The band toured with Jimmy Eat World in the United States in April and May 2008. The band headlined the Give It A Name festival in the United Kingdom on May 10 and May 11, 2008. Also the band performed on the In New Music We Trust Stage at Radio 1's One Big Weekend in Mote Park, Kent on May 10, 2008. Paramore had their debut Irish performance at the RDS in Dublin, Ireland on June 2, 2008. Also, Paramore performed at the 2008 Vans Warped Tour from July 1–6, 2008. They are set to perform in Florida in late 2009. On MTV's TRL, May 7, 2008, lead singer Hayley Williams said that the band was working on a new album and that it would hopefully be released by next summer. Hayley says she and the band have been practicing the new songs during the sound checks on tour.[citation needed] In an Alternative Press cover story, Zac Farro speculated on a forthcoming album, saying that it would sound like bands Mew, Thrice, and Arcade Fire. On May 19, Paramore announced on their website that they will be going on tour again, the tour being named "The Final RIOT!", starting July 25 and ending September 1. On this tour, the band performed part of Leonard Cohen's "Hallelujah". On September 2 Paramore released a collaboration hoodie along with Hurley Clothing based on the album Riot!. All proceeds go to the Love146 foundation.[citation needed] 2008–present: Twilight Motion Picture Soundtrack, The Final Riot!, and third studio album Paramore's song "Decode" is the lead single for the novel-based Twilight film. Another song called "I Caught Myself"[40] is also featured on the film's soundtrack. The band began shooting the video October 13 and singer Hayley Williams posted photos on the band's website of them on the set. "Decode" was released on October 1, 2008 on the Paramore Fan Club site as well as Stephenie Meyer's website. The video was premiered on November 3. Hot Topic hosted listening parties for the soundtrack on October 24, 2008, and the album was released on November 4, 2008. Borders released an exclusive version of the soundtrack that features an acoustic version of "Decode." The band released a live album named The Final Riot! on November 25, 2008. The album includes a bonus DVD with a full concert recorded in Chicago, IL as well as an exclusive behind the scenes documentary. As of the 9th of April 2009, The Final Riot! is certified gold in the United States. In January 2009, Josh Farro spoke about the band's upcoming third studio album. Talking to Kerrang!, Farro said: "We're gonna try to [record] it in Nashville. I think writing the album there will inspire us, and then if we record there too it'll be a lot easier since we can sleep in our beds at night rather than in hotels like the other 300 days out of the year! We're not sure who's going to produce the record yet. We did "Decode" with [producer] Rob Cavallo, which was a good experience, but we're looking around and don't want to make any decisions until we have a lot of songs and we know what we're looking for. We really enjoy our live sound and we want a producer who can really capture that." On January 21, 2009, it was announced that Paramore will be the special guest with Bedouin Soundclash and The Sounds at the No Doubt Reunion Tour 2009, starting in May 2009 in outdoor amphitheaters and arenas across the US and Canada. As of March 2009, Paramore has been writing new material for the 3rd album and visiting the studio. The band has been targeting for a summer release date. On the band's LiveJournal, it was announced that the producer for the new album will be Rob Cavallo (known for also producing Paramore's "Decode" and several other bands' albums such as Green Day, Avril Lavigne, Less Than Jake and My Chemical Romance). On the kick off date for the No Doubt tour, they played 2 new songs titled "Ignorance" and "Where The Lines Overlap" On May 16, 2009, Paramore announced to the audience at the No Doubt Reunion Tour 2009 that they're are indeed releasing a new album, and the first single would be titled "Ignorance". The new 2009 album title has not yet been released to the public, although a September 9, 2009 release date has been set. Musical style and influences Joshua Martin had written after an interview with Williams, "The band isn't just a short pop-punk girl with red hair and a spunky attitude. Their music is like them, it's aged differently. It's sped up, and slowed down. It's emo without being whiney, or bratty. Almost a very literal anti-Avril Lavigne." Alternative Press magazine had commented that the band was "young sounding", while consistently being "honest." Paramore's first album All We Know is Falling had an arguably more "formulaic pop-punk" sound that was "delivered particularly well" and the combination of the two had created a "refined rock infused pop/punk album." The band's second release, Riot! was said to explore a 'diverse range of styles," however, not straying far from "their signature sound." Alternative Press and various other reviewers have noted that the band's stage performances have helped boost them to larger fame. Alternative Press states that Williams "has more charisma than singers twice her age, and her band aren't far behind in their chops, either." Singer-songwriter John Mayer had praised Williams' voice in a blog in October 2007, calling her "The great orange hope"; "orange" in reference to her hair color. Due to the female fronted aspect of the band, Paramore has gained comparisons to Kelly Clarkson and the afore mentioned Avril Lavigne, to which one reviewer said was "sorely unfounded."Reviewer Jonathan Bradley noted that "Paramore attacks its music with infectious enthusiasm," however, he also explained that "there isn’t a whole lot of difference between Riot! and the better songs from Kelly Clarkson or Avril Lavigne." A reviewer at NME had likened Paramore's sound to that of "No Doubt (stripped of all the ska bollocks)" and "Kelly Clarkson's wildest dreams."Williams has gone on to comment about the female aspect of the band saying that Paramore is not "this girl-fronted band" and it makes "music for people to enjoy music, not so people can talk about my sexuality." Paramore has expressed appreciation for Blink-182, Jimmy Eat World, Chicago, Sunny Day Real Estate, Death Cab for Cutie, Fall Out Boy and Failure; Williams citing her personal influences as Robert Smith of The Cure and Etta James.Williams explained that bands such as U2, "who are massive, and do whatever they want, write whatever they want and they stand for something," Jimmy Eat World, "who I don’t think ever disappoint their fans," and No Doubt, who "have done amazing things," act as a pattern for the path in which Paramore would like to take their career. In an interview with the BBC, Josh Farro stated "Our faith is very important to us. It's obviously going to come out in our music because if someone believes something, then their worldview is going to come out in anything they do. But we're not out here to preach to kids, we're out here because we love music."